Blog
Pengenalan Unit Testing
Saat kuliah dulu kita mengenal 2 macam testing perangkat lunak: blackbox dan whitebox. Blackbox testing mengacu pada requirement feature dari user, tiap feture yang di minta oleh user akan di lakukan test, seperti namanya testing secara blackbox dilakukan tanpa melihat code dari aplikasi. Untuk testing ini, alangkah baiknya dilakukan oleh user yang terlibat dalam aplikasi yang sedang (atau telah) di kembangkan.
Whitebox testing mengacu pada testing sisi developer, berupa testing yang di lakukan pada unit terkecil dalam sebuah aplikasi, dalam hal ini berupa kode program. Pada aplikasi yang dikembangkan secara prosudural, unit terkecil adalah prosedur (atau fungsi), sementara untuk aplikasi yang dikembangkan secara object unit terkecil adalah method.
Unit testing sendiri dilakukan dengan membuat class terpisah untuk melakukan testing pada class sudah ada (yang terkadang juga blm ada), mendefinisikan setiap kemungkinan yang akan dilakukan setiap method dan memastikan output yang di hasilkan sesuai dengan yang di harapkan. Dan dari penjelasan tersebut jelas-jelas unit testing sendiri jelas merupakan jenis white box, dimana developer melihat langsung kode yang akan di ujicoba.
Sekilas mungkin terlihat bahwa penggunaan testing unit hanya akan menambah pekerjaan, membuang waktu, membuang tenaga. Lalu kenapa kita harus melakukan testing unit jika misalnya kita sudah membuat kode program dan sudah di ujicoba secara fungsional dan pun sudah sesuai dengan keinginan user? Ok, jika anda berpikir demikian, maka memang ada benarnya begitu adanya.
Tapi ingat, itu jika code program sudah ada, namun pada prakteknya unit testing digunakan untuk mendefinisikan setiap pekerjaan yang harus dilakukan dan hasil yang diharapkan oleh kode program yang akan dibuat. Dengan kata lain, penggunaan unit testing dilakukan untuk pengembangan perangkat lunak berbasis testing atau dalam bahasa kerennya di sebut Test Driven Development (TDD). Dimana hal yang dilakukan dalam TDD adalah menulis testingnya terlebih dahulu, baru diikuti dengan menulis kode program yang didasarkan pada case testing yang telah dibuat.
Secara singkat, beberapa tahapan yang dilakukan dalam TDD adalah:
- Tambah Kode Testing
- Melakukan Testing,
- Menulis kode program
- Menjalankan semua kode testing secara otomastis
- memastikan semua testing berhasil dilakukan, jika iya ulangi dari kembali dari langkah pertama
Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar di bawah ini.
Comments
There are no comments yet.
