Blog
Masalah Penentuan Harga Produk Kreatif (IT) di Indonesia
Salah satu permasalahan yang perlu dipertimbangkan sebelum dan sesudah membuat produk dan jasa di bidang industri kreatif seperti pembuatan animasi, softare, games dan sebagainya adalah harga. Harga penting dipertimbangkan karena hal ini menentukan apakah produk itu bisa terjual, diterima pasar dan yang paling penting apakah bisa menguntungkan. Sebuah produk jika harganya terlalu mahal bisa tidak laku, jika terlalu murah bisa rugi.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pendapatan per kapitanya rendah. Hal ini menyebabkan daya beli masyarakat rendah yang sama dengan hanya bisa membeli produk atau jasa dengan harga murah tetapi di lain sisi sama dengan ongkos produksi untuk membuat produk bisa juga rendah karena gajinya rendah. Dengan ongkos produksi rendah, seharusnya produk yang dihasilkan berharga rendah dan akan diterima oleh pasar Indonesia dan bahkan bisa menguasai pasar luar negeri yang memiliki ongkos produksi lebih mahal. Namun sayangnya hal itu tidak terjadi saat ini.
Untuk sebuah film animasi berdurasi 30 menit dengan kualitas bagus, biaya pembuatannya di Indonesia berkisar 60 – 80 juta. Biaya tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan film serupa yang dibuat di luar negeri. Oleh karenanya banyak perusahaan luar negeri yang mengoutsource pengembangan film animasinya ke Indonesia. Kadang-kadang produk itu masuk kembali ke Indonesia. Begitu juga dengan pengembangan software, games dan benda-benda kreatif lainnya.
Namun sayangnya walaupun biaya produksi di Indonesia lebih rendah, masih sangat sulit produk tersebut dijual di Indonesia. Pihak televisi yang merupakan salah satu pasar untuk produk animasi tidak mau membeli film animasi berdurasi 30 menit dengan harga 60 – 80 juta. Perusahaan lokal Indonesia tidak mau membeli sistem informasi yang dibuat oleh anak bangsa seharga 70-100 juta. Begitu juga dengan games.
Akhirnya yang menjadi inti dari permasalahan adalah kemampuan anak-anak bangsa untuk menjual produknya dalam jumlah yang massal. Ketika sebuah film animasi dibuat di Indonesia, biasanya film itu ditargetkan hanya untuk satu pembeli. Berbeda dengan perusahaan luar negeri yang bisa menjual produknya ke banyak pembeli. Sebuah film animasi dengan ongkos produksi 80 juta, jika misalkan bisa dijual 100 kali dengan harga 5 juta bisa untung besar. Begitu juga dengan software, kebanyakan software buatan anak bangsa hanya mampu dijual ke sedikit pembeli. Coba bandingkan dengan microsoft yang mampu menjual windows seharga 700 ribu hingga 1 juta rupiah namun dengan pembeli yang berjuta-juta jumlahnya.
Untuk itulah menjadi PR bagi semua stakeholder di Indonesia bagaimana bisa membantu produk-produk Indonesia bisa terjual secara massal. Apalagi kecenderungan pasar sekarang ini, lebih memilih produk dengan harga sangat murah apalagi gratis namun dengan kuantitas yang sangat banyak. Contoh yang sukses di Indonesia adalah produk-produk makanan ringan yang harganya hanya 500 rupiah namun bisa terjual berjuta-juta buah setiap harinya.
Comments
There are no comments yet.